Suatu sore di minimarket, seorang anak kecil berguling di lantai. Tangisnya keras, tangannya memukul-mukul udara. Ibunya berdiri di sampingnya—lelah, malu, bingung. Orang-orang melirik. Ada yang tersenyum maklum, ada yang menggeleng pelan. Di momen seperti itu, tantrum bukan hanya milik anak. Orang tua pun sedang berperang dalam dirinya sendiri.
Tantrum adalah bahasa. Bahasa yang belum fasih. Bahasa yang lahir dari emosi yang terlalu besar untuk tubuh yang masih kecil.
Anak belum punya cukup kosakata untuk mengatakan, “Aku kecewa,” atau “Aku lelah,” atau “Aku merasa tidak didengar.” Maka tubuhnya yang berbicara. Tangisan, teriakan, bahkan tendangan, adalah cara mereka memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hati kecilnya.
Sering kali kita tergoda untuk memadamkan tantrum secepat mungkin. Dengan bentakan. Dengan ancaman. Dengan janji hadiah. Padahal yang dibutuhkan anak bukan sekadar berhenti menangis—melainkan merasa dipahami.
BACA JUGA
Anak-Anak Skena, Ketika Pakaian Menjadi Pernyataan
Fashion Muslimah 2026: Antara Kesederhanaan, Teknologi, dan Identitas DiriMenghadapi anak yang tantrum pertama-tama adalah soal mengelola diri sendiri. Jika orang tua ikut terbakar, api akan makin besar. Tarik napas. Turunkan suara. Dekati anak, bukan sebagai hakim, tetapi sebagai pelindung. Duduk sejajar. Sentuh bahunya perlahan jika ia mau disentuh. Katakan dengan tenang, “Ibu tahu kamu sedang marah.”
Kalimat sederhana itu bisa menjadi jembatan. Anak belajar bahwa emosinya diakui, bukan ditolak.
Bukan berarti semua keinginannya harus dituruti. Tidak. Batas tetap penting. Namun batas bisa disampaikan tanpa merendahkan. “Kita tidak bisa membeli itu hari ini. Kamu boleh kecewa, tapi kita tetap pulang sekarang.” Tegas, tapi tidak kasar.
Ada hari-hari ketika tantrum datang karena hal sepele: biskuitnya patah, mainannya tidak sesuai bayangan, atau ia diminta berhenti bermain. Bagi orang dewasa, itu kecil. Bagi anak, itu dunia yang runtuh. Mengingat ini membantu kita lebih berempati.
Tantrum juga sering muncul karena kebutuhan dasar yang terlewat: lapar, lelah, terlalu banyak stimulasi. Kadang solusi terbaik bukan ceramah panjang, melainkan makan tepat waktu dan tidur cukup.
Yang jarang disadari, setiap tantrum adalah kesempatan belajar. Anak belajar mengenali emosi. Orang tua belajar memperluas kesabaran. Hubungan diuji, lalu diperkuat.
Tidak semua momen akan berjalan ideal. Ada kalanya orang tua ikut terpancing. Itu manusiawi. Jika terlanjur meninggi, tak ada salahnya meminta maaf. “Tadi Ayah terlalu keras. Maaf ya.” Dari situ anak belajar bahwa orang dewasa pun bisa salah dan berani memperbaiki.
Menghadapi anak yang tantrum bukan tentang memenangkan pertarungan. Ini tentang membimbing anak melewati badai emosinya sampai ia bisa mengemudikan perasaannya sendiri.
Suatu hari nanti, ia tidak lagi berguling di lantai minimarket. Ia akan tumbuh, belajar menamai emosinya, dan mungkin mengingat bahwa dulu ada seseorang yang tetap tinggal di sampingnya saat ia tak mampu mengendalikan diri.
Dan mungkin, di situlah makna pengasuhan yang paling sunyi: tetap hadir, bahkan ketika dunia terasa ricuh.